Minggu, 08 Maret 2015

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK



PAPER KDK II
PERSIAPAN DAN INDIKASI, KONTRA INDIKASI, SERTA LANGKAH KERJA DARI PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
DOSEN PEMBIMBING: JUMRAH, S.ST.


Oleh

NURILMA
14 3145 301 024



D IV BIDAN PENDIDIK
STIKES MEGA REZKY MAKASSAR
2015







BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemeriksaan diagnostic adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga dan komunikan terhadap suatu masalah kesehatan dan proses kehidupan actual maupun potensial. Hasil suatu pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam membantu diagnose,memantau perjalanan penyakit serta menentukan prognosa. Karena itu perlu diketahui factor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.
Dalam menunjang diagnosa suatu penyakit adalah dengan pemeriksaan laboratorium yang baik. Salah satu pemeriksan laboratorium yang sering digunakan adalah pemeriksaan hemoglobin. Pengumpulan atau pengambilan sampel darah yang baik merupakan langkah awal dalam menjamin ketelitian dan kepercayaan terhadap hasil pemeriksaan laboratorium. Specimen darah untuk pemeriksaan hematologi (pemeriksaan hemoglobin) dapat diperoleh dari darah vena ataupun darah kapiler.
Pembuluh darah vena yang membawa darah dari bagian tubuh yang masuk ke dalam jantung. Pada umumnya darah vena banyak mengandung gas CO2. Pembuluh ini terdapat katup yang tersusun sedemikian rupa sehingga darah dapat mengalir ke jantung tanpa jatuh kearah sebaliknya. Pembuluh darah kapiler pada umumnya meliputi sel-sel jaringan, oleh karena itu secara langsung berhubungan dengan sel. Karena dindingnya yang tipis maka plasma dan zat makanan merembes kecairan jaringan antar sel.
Susunan darah dalam kapiler dan dalam vena berbeda-beda. Darah vena berwarna lebih tua dan agak ungu kerena banyak dari oksigennya sudah diberikan kepada jaringan. Darah dalam kapiler terus-menerus berubah susunan dan warnanya karena terjadinya pertukaran gas.
Pemeriksaan laboratorium sangat penting untuk membantu menegakkan diagnosis penyakit. Agar hasil pemeriksaan laboratorium akurat dan dapat dipercaya harus dilakukan pengendalian terhadap pra analitik, analitik, dan pasca analitik. Tahap pra analitik: persiapan pasien, pengambilan sampel darah, persiapan sampel, penyimpanan sampel, persiapan kertas kerja. Tahap analitik:persiapan alat, kalibrasi alat, pengolahan sampel, interpretasi hasil. Tahap pasca analitik: pencatatan hasil dan pelaporan.
Internasional Commite for Standardization in Hematology (ICSH) menganjurkan pemeriksaan hemoglobin melalui metode cyanmethehemoglobin. Cara ini mudah dilakukan karena mempunyai standart yang stabil dan dapat mengukur semua jenis hemoglobin kecuali sulf hemoglobin.






















BAB II
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

A.    PERSIAPAN PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Hasil pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam membantu diagnose, memantau perjalanan penyakit serta menentukan prognosa. Karena itu perlu diketahui factor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.
Terdapat tiga factor utam yang mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium yaitu:
1.      Pra instrumentasi.
Pada tahap ini sangat penting diperlukan kerjasama antara petugas, pasien dan dokter. Hal ini karena tanpa kerjasama yang baik akan mengganggu/mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium. Yang termasuk dalam tahap instrumentasi meliputi:
a.       Pemahaman instruksi dan pengisian formulir.
Pada tahap ini perlu diperhatikan benar apa yang diperintahkan oleh dokter dan dipindahkan kedalam formulir. Hal ini penting untuk menghindari pengulangan pemeriksaan yang tidak penting.membantu persiapan pasien sehingga tidak dan menyakiti pasien dan merugikan pasien. Pengisian formulir dilakukan secara lengkap meliputi identitas pasien: nama, alamat/ruangan, umur jenis kelamin, data klinis/diagnose, dokter pengirim, tanggal dan kalau diperlukan pengobatan yang sedang diberikan. Hal ini penting untuk menghindari tertukarnya hasil ataupun dapat membantu interpretasi hasil terutama pada pasien yang mendapat pengobatan khusus dan jangka panjang.
b.      Persiapan penderita.
1)      Puasa.
Dua jam setelah makan sebanyak kira-kira 800 kalori akan mengakibatkan peningkatan volume plasma, sebaiknya setelah berolahraga volume plasma akan berkurang.perubahan volume plasma akan mengakibatkan perubahan susunan kandungan bahan dalam plasma dan jumlah sel darah.
2)      Obat.
Penggunaan obta dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan hematologi misalnya: asam folat, Fe, vitamin B 12 dan lain-lain.
3)      Waktu pengambilan.
Umumnya bahan pemeriksaan laboratorium diambil pada pagi hari terutama pada pasien rawat inap. Kadar bebrapa zat terlarut dalam urin akan menjadi lebih pekat pada pagi hari sehingga lebih midah diperiksa bila kadarnya rendah.kecuali ada instruksi dan indikasi khusus atas perintah dokter.selain itu juga ada pemeriksaan yang tidak yang tidak melihat waktu berhubung dengan tingkat kegawatan pasien dan memerlukan penanganan segera disebut pemeriksaan sito.
4)      Posisi pengambilan.
Posisi berbaring kemudian berdiri mengurangi volume plasma 10% demikian pula sebaliknya.
a)      Persiapan alat.
Dalam mempersiapkan alat yang akan digunakan selalu diperhatikan instruksi dokter sehingga tidak salah persiapan dan berkesan profesional dalam bekerja.
b)      Pengambilan darah.
Yang harus dipersiapkan antara lain: kapas alcohol 70%, kerat pembendung (torniket) semprit sekali pada umumnya 2.5 ml atau 5 ml, penampung kering bertutup dan berlabel.
c)      Penampungan urin.
Digunakan botol penampung urine yang bermulut lebar, berlabel,kering, bersih, bertutup rapat dapat steril atau tidak steril.
d)     Penampung khusus.
Biasanya yang diperlukan pada pemeriksaan mikrobiologi atau pemeriksaan khusus yang lain. Yang penting diingat adalah label harus ditulis lengkap identitas penderita seperti pada formulir termasuk jenis pemeriksaan sehingga tidaktertukar.
c.       Cara pengambilan sampel
Pada tahap ini perhatikan ulang apa yang harus dikerjakan, lakukan pendekatan dengan pasien atau keluarganya sebagai etika dan sopan santun, beritahukan apa yang akan dikerjakan. Selalu tanyakan identitas pasien  sebelum bekerja sehingga tidak tertukar pasien yang akan diambil bahan dengan pasien lain. Karena  kepanikan pasien akan mempersulit pengambilan darah karena vena akan konstriksi.darah dapat diambil dari vena, arteri atau kapiler. Syarat mutlak lokasi pengambilan darah adalah tidak ada kelainan kulit didaerah tersebut, tidak pucat dan tidak sionosis.
d.      Penanganan awal sampel dantransportasi.
Pada tahap ini sangat penting diperhatikan karena sering terjadi sumber kesalahan.

B.     PERSIAPAN DAN PENGAMBILAN SPECIMEN
1.      SPESIMEN DARAH
Pemeriksaan darah merupakan pemeriksaan yang menggunakan bahan atau specimen darah. Beberapa pemeriksaan dibawah ini menggunakan specimen darah, antara lain:
a.       SGPT (Serum Glumatik Piruvik Transaminase) atau alanin amoniotransferase. Pemeriksaan SGPT bertujuan untuk mendeteksi adanya kerusakan hepatoseluler.
b.      Albumin
Pemeriksaan albumin bertujuan untuk mendeteksi kemampuan albumin yang disintesis oleh hepar. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan adanya gangguan hepar, seperti, sirosis, luka bakar, gangguan ginjal, atau kehilangan protein dalam jumlah yang banyak.
c.       Asam urat
Pemeriksaan asam urat bertujuan untuk mendeteksi penyakit pada ginjal, anemia asam folat, luka bakar, dan kehamilan. Terjadi peningkatan asam urat dapat diindikasikan penyakit seperti, leukemia, kanker, eklamsia berat, gagal ginjal, malnutrisi dan lain-lain.
d.      Bilirubin (total, direct dan indirect)
Pemeriksaan bilirubin bertujuan untuk mendeteksi kadar bilirubin yang dapat mendeteksi adanya ikterik obstruktif oleh karena batu atau neoplasma, hepatitis, sirosis pada bilirubin direct. Pada bilirubin indirect dapat mendeteksi adanya anemia, malaria dan lain-lain.
e.       Estrogen
Pemeriksaan estrogen bertujuan untuk mendeteksi disfungsi ovarium, gejala menopause dan pasca menopause, stress psikogenik. Nilai estrogen meningkat dapat diindikasikan adanya tumor ovarium, adanya kehamilan dan lain-lain.
f.       gas darah arteri
pemeriksaan gas darah arteri bertujuan untuk mendeteksi gangguan keseimbangan asam-basa yang disebabkan oleh Karena gangguan respiratorik atau gangguan metabolic. Dengan cara mengambil darah kurang lebih 1-5 ml dari arteri, dengan spuit dan jarum berisikan heparin.
g.      Gula darah puasa
Pemeriksaan gula darah puasa bertujuan untuk mendeteksi adanya diabetes, atau reaksi hipoglikemik. Puasakan makan dan minum 12 jam sebelum pemeriksaan.
h.      Gula darah postprandial
Pemeriksaan gula darah postprandial bertujuan untuk mendeteksi adanya diabetes, atau reaksi hipoglikemik, yang dilakukan setelah makan.
i.        Human Chorionic Gonadotropin (HCG)
Pemeriksaan HCG bertujuan untuk mendeteksi adanya kehamilan, karena HCG adalah hormone yang diproduksi oleh plasenta.
j.        Hematokrit
Pemeriksaan hematokrit bertujuan untuk mengukur konsentrasi sel-sel darah merah dalam darah, yang dapat mendeteksi adanya anemia, kehilangan darah, gagal ginjal kronis, defisiensi vitamin B dan C. apabila terjadi peningkatan kadar hematokrit dapa diindikasikan adanya dehidrasi, asidosis, trauma, pembedahan dan lain-lain.
k.      Hemoglobin
Pemeriksaan hemoglobin bertujuan untuk mendeteksi adanya anemia, penyakit ginjal. Terjadi peningkatan dapat diindikasikan adanya dehidrasi, penyakit paru obstruksi menahun, gagal jantung kongestif dan lain-lain.
l.        Trombosit
Pemeriksaan trombosit bertujuan untuk mendeteksi adanya trombositopenia yang berhubungan dengan perdarahan, dan trombositosis yang menyebabkan peningkatan pembekuan.
m.    Masa tromboplastin parsial (PTT= Partial Tromboplastin Time), masa tromboplastin parsial teraktivasi (APTT = Activation  Partial Tromboplastin Time)
Pemeriksaan PTT/APTT bertujuan untuk mendeteksi defisiensi factor pembekuan kecuali factor VII, VIII, mendeteksi variasi trombosit, dan memonitor terapi heparin.
n.      Pemeriksaan lain yang menggunakan specimen darah antara lain pemeriksaan kadar elektrolit dalam darah, masa protombin, progesterone, prolaktin, serum, kreatinin, kortisol, kolesterol, T3, T4, dan lain-lain.


Persiapan Pengambilan Specimen Darah Vena
1.      Alat dan bahan
a)      Bak instrument.
b)      Torniquet .
c)      Spuid 3 cc.
d)     Botol untuk specimen darah.
e)      Kapas alcohol.
f)       Bengkok.
g)      Sarung tangan.
h)      Pengalas atau perlak kecil.
2.      Pelaksanaan
a)      Memberitahu dan menjeladkan pada pasien tindakan yang akan dilakukan.
b)      Menyiapkan alat dan bahan, membawa ke dekat pasien.
c)      Memasang sampiran
d)     Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
e)      Mencuci tanga dengan sabun dan air mengalir , mengeringkan dengan handuk bersih.
f)       Memakai sarung tangan.
g)      Membebaskan lokasi pengambilan specimen darah vena dari pakaian.
h)      Mencari daerah yang terlihat jelas venanya.
i)        Memasang pengalas dibawah daerah /tempat yang akan diambil darahnya.
j)        Mengikat bagian diatas daerah yang akan diambil darahnya dengan karet pembendung atau tourniquet, pasien dianjurkan mengepalkan tangannya.
k)      Mendesinfeksi kulit dengan kapas alcohol secara sirkuler dengan diameter kurang lebih 5 cm.
l)        Menegangkan kulit dengan tangan yang tidak dominan.
m)    Memasukkan jarum kedalam vena, dengan tangan dominan (jarum dan kulit membentuk sudut kurang lebih 200),
n)      Menarik sedikit penghisap untuk aspirasi apakah jarum sudah masuk vena.
o)      Membuka karet pembendung, anjurkan pasien membuka kepalan tangan (bila darah telah terlihat pada tabung spuid).
p)      Menarik penghisap sehingga darah masuk kedalam tabung spuid, hisap sebanyak kebutuhan.
q)      Menarik jarum keluar, dengan meletakkan kapas alcohol diatas jarum dan tarik jarum keluar.
r)       Memasukkan darah dalam spuid kedalam botol yang telah tersedia (memasukkan agak miring dan tidak terlalu keras menyemprotkannya).
s)       Memberi label pada botol dan siap dibawa ke laboratorium untuk pemeriksaan.
t)       Membereskan alat, buang alat suntik dengan benar.
u)      Melepaskan sarung tangan.
v)      Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
w)    Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.
Persiapan Pengambilan Specimen Darah Perifer
1.      Alat dan bahan
a)      Lancet.
b)      Kapas alcohol.
c)      Kapas kering.
d)     Sarung tangan.
e)      Pengalas
f)       Botol tempat darah yang diberi label, alat pengukur Hb (Hb sahli) dll tergantung jenis pemeriksaan.
g)      Bengkok.
2.      Pelaksanaan:
a)      Memberitahu dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan.
b)      Menyiapkan alat dan bahan, membawa ke dekat pasien.
c)      Memasang sampiran.
d)     Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
e)      Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
f)       Memakai sarung tangan.
g)      Mendesinfeksi kulit dengan kapas alcohol (ujung jari manis atau jari telunjuk) dan biarkan kering.
h)      Menusuk dengan lancet secara tegak lurus.
i)        Mengusap darah yang baru keluar dengan kapas kering, darah yang keluar berikutnya digunakan untuk pemeriksaan.
j)        Menekan bekas tusukan dengan kapas kering.
k)      Membereskan alat, buang lancet dengan benar.
l)        Melepas sarung tangan.
m)    Mencuci tangan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
n)      Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.

2.      SPECIMEN URINE
Pemeriksaan urin merupakan pemeriksaan yang menggunakan bahan atau specimen urine, adapun pemeriksaannya dapat dilakukan antara lain:
1.      Asam urat
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi berbagai kelainan pada penyakit ginjal, eklamsia, keracunan timah hitam, leukemia dengan diet tinggi purin, ulseratif colitis dan lain-lain. Tampung urine  24 jam dan masukkan kedalam botol atau tabung.
2.      Bilirubin
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit obstruktif saluran empedu, penyakit hepar, kanker heparn dan lain-lain. Carnya yaitu gunakan incotet, teteskan urine kurang lebih 5 tetes, masukkan tablet dan tambahkan 2 tetes air, hasil positif jika warna biru atau ungu., bila merah maka hasil negative.
3.      Human chorionic gonadotropin (HCG)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kehamilan, mengingat HCG adalah hormone yang diproduksi oleh plasenta. Di anjurkan puasa 8-12 jam cairan, ambil urine 60 ml kemudian lakukan pengumpulan selama 24 jam.
4.      Pemeriksaan lain yang menggunakan specimen urine antara lain: pemeriksaan urobilinogen untuk menentukan kadar kerusakan hepar, penyakit hemolitik dan infeksi berat. Pemeriksaan urinealisis digunakan untuk menentukan adanya berat jenis, kadar glukosa, keton, dan lain-lain. Pemeriksaan kadar protein dalam urine untuk menentukan kadar kerusakan glomerolus. Pemeriksaan pregnadion dalam urine untuk menentukan adanya gangguan dalam menstruasi dan menilai adanya ovulasi, serta pemeriksaan lainnya.
Jenis-jenis pengambilan urine yaitu:
1)      Urine sewaktu
Urine yang dikeluarkan sewaktu-waktu bilamana diperlukan pemeriksaan.
2)      Urine pagi
Urine yang pertama dikeluarkan pasien pada saat bangun pagi.
3)      Urine pasca prandial.
Urine yang pertama kali dikeluarkan setelah pasien makan 1,5-3 jam sesudah makan)
4)      Urine 24 jam.
Urine yang dikumpulkan dalam waktu 24 jam.

Persiapan pengambilan specimen urine
1.      Alat dan bahan
a)      Botol untuk specimen urine.
b)      Sarung tangan.
c)      Bengkok.
d)     Pispot.
e)      Pengalas atau perlak kecil.
2.      Pelaksanaan:
a)      Memberitahu dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan.
b)      Menyiapkan alat dan membawa ke dekat pasien.
c)      Memasang sampiran.
d)     Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
e)      Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan handuk bersih.
f)       Memakai sarung tangan.
Pasien yang istirahat total di tempat tidur
g)      Memasang pengalas dibawah bokong pasien.
h)      Memasang pispot dibawah bokong pasien.
i)        Membantu pasien untuk cebok dulu sebelum berkemih.
j)        Membiarkan urine yang keluar permulaan dan menampung urine yang keluar berikutnya dengan bengkok atau botol yang disediakan sesuai kebutuhan.
k)      Membantu pasien untuk cebok.
Pasien yang Dapat Berjalan.
l)        Memberitahu pasien untuk membiarkan saja urine yang keluar permulaan mengalir sedikit dan menampung urine yang keluar berikutnya dengan bengkok atau botol yang telah disediakan.
m)    Memberi etiket yang jelas dan mengisi formulir pengiriman, untuk segera dikirim ke laboratorium.
n)      Membereskan alat.
o)      Melepas sarung tangan.
p)      Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
q)      Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.

3.      SPESIMEN FESES
Pemeriksaan Feses merupakan pemeriksaan dengan menggunakan bahan feses yang bertujuan untuk mendeteksi adanya kuman seperti kelompok salmonella, shigella, esherichia coli, staphylococcus dan lain-lain.
Persiapan pengambilan specimen feses.
1.      Alat dan bahan.
a)      Botol untuk specimen feses.
b)      Sarung tangan.
c)      Pispot.
d)     Lidi kapas.
e)      Pengalas atau perlak.
f)       Bengkok.
2.      Pelaksanaan:
a)      Memberitahu dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan.
b)      Menyiapkan alat dan membawa ke dekat pasien.
c)      Memasang sampiran.
d)     Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
e)      Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
f)       Memakai sarung tangan.
Pasien yang tidak kuat berjalan.
g)      Memasang pengalas dibawah bokong pasien.
h)      Memberikan urinal atau pispot pada pasien untuk BAK atau kencing.
i)        Mengganti urinal dengan pispot untuk BAB/berak.
j)        Mengambil tinja sedikit dengan lidi kapas, memasukkan kedalam tempat/botol yang sudah disediakan.
k)      Membantu pasien untuk cebok.
Pasien yang dapat berjalan.
l)        Memberitahu pasien untuk mengambil tinja dengan lidi kapas dan memasukkan ke tempat yang telah disediakan, jangan sampai tinja tercampur air.
m)    Memberi etiket yang jelas dan mengisi formulir pengiriman untuk segera dikirim ke laboratorium.
n)      Membereskan alat.
o)      Melepas sarung tangan.
p)      Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
q)      Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.

4.      SPECIMEN CAIRAN PERVAGINAM
Persiapan pengambilan specimen cairan vagina.
1.      Alat dan bahan:
a)      Kapas lidi steril atau oase.
b)      Obyek glass.
c)      Bengkok.
d)     Sarung tangan.
e)      Speculum.
f)       Kain kasa, kapas sublimat.
g)      Perlak.
2.      Pelaksanaan:
a)      Memberitahu dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan.
b)      Menyiapkan alat dan bahan, membawa ke dekat pasien.
c)      Memasang sampiran.
d)     Membuka atau menganjurkan pasien menanggalkan pakaian bawah (tetap jaga privacy pasien).
e)      Memasang pengalas di bawah bokong pasien.
f)       Mengatur posisi pasien dengan kaki ditekuk (dorsal recumbent).
g)      Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
h)      Memakai sarung tangan.
i)        Buka labia mayora dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan yang tidak dominan.
j)        Mengambil sekret vagina dengan kapas lidi tangan yang dominan sesuai kebutuhan.
k)      Menghapuskan secret vagina pada obyek glass yang disediakan.
l)        Membuang kapas lidi dalam bengkok.
m)    Memasukkan obyek glass ke dalam piring petri atau kedalam tabung kimia dan ditutup.
n)      Memberi label dan mengisi formulir pengiriman specimen untik dikirim ke laboratorium.
o)      Membereskan alat.
p)      Melepas sarung tangan.
q)      Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih.
r)       Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.

5.      SPESIMEN SPUTUM
Sputum atau dahak adalah bahan yang keluar dari bronchi atau trakea, bukan ludah atau lendir yang keluar dari mulut, hidung atau tenggorokan. Pemeriksaan dengan bahan secret atau sputum dilakukan untuk mendeteksi adanya kuman seperti tuberkolusis pulmonal, pneumonia bakteri, bronchitis kronis, bronkhietaksis.
Persiapan dan pelaksanaan.
a)      Siapkan wadah dalam keadaan steril.
b)      Dapatkan sputum pada pagi hari sebelum makan pagi.
c)      Anjurkan pasien untuk batuk agar mengeluarkan sputum.
d)     Pertahankan agar wadah dalam keadaan tertutup.
e)      Bila kultur untuk pemeriksaan BTA (bakteri tahan asam), ikuti instruksi yang ada pada botol penampung. Biasanya diperlukan 5-10 cc sputum, yang dilakukan selama tiga hari berturut-turut.

C.     PERSIAPAN PEMERIKSAAN RADIOLOGI
1.      USG
USG atau ultrasonografi merupakan suatu prosedur diagnosis yang dilakukan diatas permukaan kulit atau diatas rongga tubuh untuk menghasilkan suatu ultrasound didalam jaringan. Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat struktur jaringan tubuh atau analisis dari gelombang Doppler.
Ultrasonografi dapat dilakukan untuk mendeteksi berbagai kelainan yang ada pada abdomen, otak, kandung kemih, jantung ginja, hepar, uterus atau pelvis. Selain itu USG juga dapat digunakan untuk dapat membedakan antara kista dan tumor. Pada kehamilan cairan amnion dapat menambah refleksi gelombang suara dari plasenta dan fetus sehingga dapat mengidentifikasi ukuran, bentuk dan posisi, kemudian dapat mendeteksi pancreas, limpa, tiroid, dan lain-lain.
Persiapan dan pelaksanaan:
1.      Lakukan informed consent.
2.      Anjurkan untuk puasa makan dan minum 8-12 jam sebelum pemeriksaan USG aorta abdomen, kandung empedu, hepar, limpa dan pancreas.
3.      Oleskan jeli konduktif pada permukaan kulit yang akan dilakukan USG.
4.      Transduser dipegang dengan tangan dan gerakkan ke depan dan ke belakang diatas permukaan kulit.
5.      Lakukan antara 10-30 menit.
6.      Premedikasi jarang dilakukan hanya bila pasien dalam keadaan gelisah.
7.      Pasien tidak boleh merokok sebelum pemeriksaan untuk mencegah masuknya udara.
8.      Bila pada pemeriksaan obstetric (trimester pertama dan kedua), pelvis dan ginjal pasien dianjurkan untuk minum 4 gelas air dan tidak boleh berkemih sementara untuk trimester ketiga, pemeriksaan pada pasien dilakukan pada saat kandung kemih kosong.
9.      Bila pada otak lepaskan semua perhiasan dari leher dan jepit rambut dari kepala.
10.  Bila pada jantung anjurkan untuk bernapas parlahan dan menahan setelah inspirasi dalam.

2.      RONTGEN
Rontgen atau dikenal dengan sinar x merupakan pemeriksaan yang memanfaatkan peran sinar x dalam mendeteksi kelainan pada berbagai organ diantaranya dada, jantung, abdomen, ginjal, ureter, kandung kemih, tengkorak, dan rangka.pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan radiasi sinar x yang sedikit karena tingginya kualitas film sinar x dan digunakan untuk melakukan skrining dari berbagai kelainan yang ada pada organ.
Persiapan dan pelaksanaan:
1.      Lakukan informed consent.
2.      Tidak ada pembatasan makanan atau cairan.
3.      Pada dada pelaksanaan fotodengan posisi PA (posterior anterior) dapat dilakukan dengan posisi berdiri dan foto AP (anterior posterior) lateral dapat juga dilakukan. Baju harus diturunkan sampai ke pinggang, baju kertas atau baju kain bisa digunakan, dan perhiasan dapat dilepaskan. Anjurkan pasien untuk tarik napas dan menahan napas pada waktu pengambilan foto sinar x.
4.      Pada jantung, foto PA dan lateral kiri dapat diindikasikan untuk mengevaluasi ukuran dan bentuk jantung, dalam pelaksanaannya, perhiasan pada leher harus dilepaskan, baju diturunkan hingga ke pinggang.
5.      Pada abdomen, baju haru dilepaskan dan digunakan baju kain/kertas, pasien tidur telentang dengan tangan menjauh dari tubuh, serta testis harus dilindungi. Pelaksanaan foto harus dilakukan sebelum pemeriksaan IVP.
6.      Pada tengkorak, penjepit rambut, kaca mata, dan gigi palsu harus dilepaskan sebelum pelaksanaan foto.
7.      Pada rangka bila dicurigai terdapat fraktur, maka anjurkan puasa dan immobilisasi pada daerah fraktur.

3.      PAP SMEAR (papanicolaou smear)
Pap smear merupakan pemeriksaan sitologi yang digunakan untuk mendeteksi adanya kanker serviks atau mendetyeksi sel pra kanker, mengkaji efek pemberian hormone seks dan respon terhadap kemoterapi dan radiasi.
Persiapan dan pelaksanaan:
1.      Lakukan informed consent.
2.      Tidak ada pembatasan makan dan cairan.
3.      Anjurkan pasien untuk tidak melakukan irigasi vagina (pembersihan vagina dengan zat lain); memasukkan obat melalui vagina, atau melakukan hubungan seks sekurang-kurangnya 24 jam atau sebaiknya 48 jam.
4.      Anjurkan pasien berbaring di meja periksa dalam posisi litotomi.
5.      Speculum yang sudah dilumasi denganair mengalir dimasukkan ke vagina.
6.      Spatula kayu bengkok (pap stick) digunakan untuk mengusap serviks, kemudian pindahkan ke kaca mikroskop dan dibenamkan ke dalam cairan fiksasi.
7.      Beri label dan tanggal pengambilan bahan pemeriksaan.

4.      MAMMOGRAFI
Mammografi merupakan pemeriksaan dengan bantuan sinar x yang dan menilai payudara secara periodic.
Persiapan dan pelaksanaan:
1.      Lakukan informed consent.
2.      Tidak ada pembatasan cairan dan makanan.
3.      Baju dilepas sampai pinggang dan perhiasan dileher dilepas.
4.      Gunakan pakaian kertas atau gaun bagian depan terbuka.
5.      Anjurkan pasien untuk duduk dan letakkan payudara satu persatu diatas meja kaset sinar x. saat payudara ditekan, pasien akan diminta untuk menahan napas.
6.      Lalu lakuka pemeriksaan.

5.       ENDOSKOPI
Pemeriksaan yang dilakukan pada saluran cerna untuk mendeteksi adanya kelainan pada saluran cerna.
Contoh: varises, esophagus, neoplasma, peptic ulcer.

6.      KOLONOSKOPI
Pemeriksaan yang dilakukan pada saluran kolon dan sigmoid untuk mendeteksi adanya kelainan pada saluran kolon.
Contoh: varises, hemoroid, neoplasma, dan lain-lain.

7.      CT SCANNING
Pemeriksaan spesifik/khusus untuk melihat organ yang lebih dalam dan terlokalisir serta khusus.
Contoh: organ dalam tengkorak dan organ dalam abdomen.


8.      EEG (Elrktro encelografi)
Pemeriksaan dilakukan untuk melihat hantaran listrik pada otak (melihat kelainan pada otak)
Indikasi : epilepsy, trauma capitis. Dengan memasang elektoda pada bagian kepal klien.
9.      EKG (elektrokardiogram)
Pemeriksaan dilakukan untuk melihat system hantaran/konduksi dari jantung.
Indikasi: MCI, angna fektoris, gagal jantung.
















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas, kesimpulan yang dapat diambil yaitu:
1.      Hasil pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam membantu diagnose, memantau perjalanan penyakit serta menentukan prognosa. Karena itu perlu diketahui factor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.
2.      USG atau ultrasonografi merupakan suatu prosedur diagnosis yang dilakukan diatas permukaan kulit atau diatas rongga tubuh untuk menghasilkan suatu ultrasound didalam jaringan. Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat struktur jaringan tubuh atau analisis dari gelombang Doppler.
3.      Pap smear merupakan pemeriksaan sitologi yang digunakan untuk mendeteksi adanya kanker serviks atau mendetyeksi sel pra kanker, mengkaji efek pemberian hormone seks dan respon terhadap kemoterapi dan radiasi.

B.     SARAN
Sebaiknya dalam pengambilan sampel atau specimen harus sesuai dengan prosedur dan anjuran dari dokter agar tidak mengalami kesalahan dalam pemeriksaan.







DAFTAR PUSTAKA

Eko,Nurul. Ardiani sulistiani. 2010. KDPK Kebidanan. Pustaka Rihana: Yokyakarta.
http: // Riswanto. Blogspot. Com/2010/02/pengumpulan specimen-darah-urine sputum-feses.html.

Musrifatul Uliyah. A. Azis Alimul Hidayat. 2006. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan. Salemba Medika: Surabaya.