BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Standar layanan merupakan bagian penting dari layanan
kesehatan itu sendiri dan memainkan peranan penting dalam masalah mutu layanan
kesehatan. Jika suatu organisasi layanan kesehatan ingin meyelenggarakan
layanan kesehatan yang bermutu secara konsisten, keinginan tersebut harus
dijabarkan menjadi suatu standar layanan kesehatan atau standar
proseduroperasional.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam segala Bidang
berpengaruh terhadap meningkatnya kritis
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kebidanan. Hal itu
menjadi tantangan bagi profesi bidan untuk meningkatkan kompetensi dan
profesionalisme dalam menjalankan praktek kebidanan serta dalam memberikan
pelayanan yang berkualitas. Dalam profesi kebidanan, standar praktik kebidanan
merupakan suatu acuan atau pedoman bagi seorang bidan dalam melakukan sebuah
tindakan. Namun, seringkali kita temukan bidan yang tidak memberikan pelayanan
yang sesuai dengan standar praktik kebidanan yang telah ditetapkan. Hal ini
menimbulkan penurunan kualitas suatu pelayanan yang diberikan oleh bidan.
Standarisasi merupakan sarana penunjang yang sangat penting artinya sebagai
salah satu alat yang efektif dan efisien guna menggerakkan kegiatan organisasi,
dalam meningkatkan produktifitas dan menjamin mutu produk dan / atau jasa,
sehingga dapat mingkatkan daya saing, melindungi konsumen, tenaga kerja, dan
masyarakat baik keselamatan maupun kesehatannya. (Djoko Wijono, 1999 : 623).
Standar pelayanan kebidanan dapat pula digunakan untuk
menentukan kompetensi yang diperlukan bidan dalalm menjalani praktek
sehari-hari. Standar ini juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai
pelayanan, menyusun rencana pelatihan dan pengembangan kurikulum pendidikan.
Selain itu, standar pelayanan dapat membantu dalam penentuan kebutuhan operasional untuk penerapannya, misalnya
kebutuhan akan pengorganisasian mekanisme, peralatan dan obat yang
diperlukan. Ketika audit terhadap pelaksana kebidanan dilakukan, maka berbagai
kekurangan yang berkaitan dengan hal-hal tersebut akan ditemukan sehingga
perbaikannya dapat dilakukan secara lebih spesifik. Salah satu indikator
keberhasilan pelayanan kesehatan perorangan di puskesmas adalah kepuasan pasien. (Djoko Wijono, 1999 : 623).
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang, rumusan masalah penulisan makalah ini yaitu:
1. Apa
pengertian standar?
2. Apa
syarat-syarat standar?
3. Bagaimana
standar pelayanan kebidanan?
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan rumusan
masalah, tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk
mengetahui pengertian standar.
2. Untuk
mengetahui syarat-syarat standar.
3. Untuk
mengetahui standar pelayanan kebidanan.
D. Manfaat
Penulisan
1. Dapat
mengetahui pengertian standar.
2. Dapat
mengetahuisyarat-syarat standar.
3. Dapat
mengetahui standar pelayanan kebidanan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
standar
Secara luas, pengertian standar layanan kesehatan adalah suatu pernyataan
tentang mutu yang diharapkan, yaitu akan menyangkut masukan, proses dan
keluaran (outcome) sistem layanan kesehatan. Standar layanan kesehatan merupakan
suatu alat organisasi untuk menjabarkan mutu layanan kesehatan ke dalam
terminologi operasional sehingga semua orang yang terlibat dalam layanan
kesehatan akan terikat dalam suatu sistem, baik pasien, penyedia layanan
kesehatan, penunjang layanan kesehatan, ataupun manajemen organisasi layanan
kesehatan, dan akan bertanggung gugat dalam menjalankan tugas dan perannya
masing-masing.
a. Menurut Clinical Practice Guideline (1990)
Standar adalah keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna
yang dipergunakan sebagai batas penerimaan minimal.
b. Menurut Donabedian (1980)
Standar adalah rumusan tentang penampilan atau nilai diinginkan yang mampu
dicapai,berkaitan dengan parameter yang telahditetapkan.
c. Menurut Rowland and Rowland (1983)
Standar adalah spesifikasi dari fungsi atau tujuan yang harus dipenuhi oleh
suatu sarana pelayanan kesehatan agar pemakai jasa pelayanan dapat
memperoleh keuntungan yang maksimal dari pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan.
B. Syarat-
syarat standar
1. Spesifik (specific)
2. Dapat diukur
(measurable)
3. Tepat
(appropriate)
4. Dapat
dipercaya (reliable)
5. Tepat waktu
(timely)
C. STANDAR MUTU PELAYANAN KEBIDANAN
Standar Pelayanan Kebidanan meliputi
24 standar, yang dikelompokan menjadi 5 bagian besar yaitu :
1.
Standar
Pelayanan Umum (2 standar)
2.
Standar Pelayanan Antenatal (6 standar)
3.
Standar
Pelayanan Persalinan (4 standar)
4.
Standar
Pelayanan Nifas (3 standar)
5.
Standar Penanganan Kegawatdaruratan
Obstetri-neonatal (9 standar)
Standar-standar
pelayanan kebidanan
1.
DUA STANDAR PELAYANAN UMUM
a. STANDAR 1 : Persiapan Untuk
Kehidupan Keluarga Sehat
Bidan memberikan penyuluhan dan
nasehat kepada perorangan, keluarga dan masyarakat terhadap segalan hal yang
berkaitan dengan kehamilan, termasuk penyuluhan kesehatan umum (gizi, KB,
kesiapan dalam menghadapai kehamilan dan menjadi calon orang tua, persalinan
dan nifas).
Bidan harus
:
a) Merencanakan
kunjungan rumah secara teratur
b) Hormati adat
istiadat setempat/perorangan ketika memberikan penyuluhan
c) Beri
penyuluhan yang dapat memotivasi masyarakat untuk meningkatkan kesehatannya
d) Jawablah
pertanyaan dengan jujur dan sopan
e) Gunakan alat
bantu yang menunjang dan bahasa yang mudah dipahami
f) Beritahu
jadwal bidan untuk memeriksakan kehamilan dan konseling perorangan
g) Adakan
konseling peroranagan di tempat khusus agar kerahasiaan terjaga
Tujuannya
adalah memberikan penyuluhan kesehatan yang tepat untuk mempersiapkan kehamilan
yang sehat dan terencana serta menjadi orang yang bertanggungjawab.
Dan hasil yang diharapkan dari
penerapan standar 1 adalah masyarakat dan perorangan dapat ikut serta dalam
upaya mencapai kehamilan yang sehat. Ibu,keluarga dan masyarakat meningkat
pengetahuannya tentang fungsi alat-alat reproduksi dan bahaya kehamilan pada
usia muda.Tanda-tanda bahaya kehamilan diketahui oleh masyarakat dan ibu.
b. STANDAR 2 : Pencatatan Dan Pelaporan
Bidan melakukan pencatatan dan
pelaporan semu kegiatan yang dilakukannya yaitu registrasi semua ibu hamil
diwilayah kerja, rincian pelayanan yang diberikan kepada ibu
hamil/bersalin/nifas dan bayi baru lahir, semua kunjungan rumah dan penyuluhan
kepada masyarakat. Disamping itu, bidan hendaknya mengikut sertakan kader untuk
mencatat semua ibu hamil dan meninjau upaya masyarakat yang berkaitan dengan
ibu dan bayi baru lahir . Bidan meninjau secara teratur catatan tersebut untuk
menilai kinerja dan penyusunan rencana kegiatan untuk meningkatkan pelayanannya.
Bidan harus :
a) Bekerjasama
dengan kader dan pamong setempat agar semua ibu hamil tercatat
b) Mencatat
dengan seksama semua pelayanan yang diberikan selama kehamilan, persalinan dan
nifas
c) Ibu
diberikan KMS ibu hamil untuk di bawa pulang
d) Lakukan
ketentuan nasional/setempat tentang pencatatan data
e) Jaga agar
kartu/buku pencatatan tersebut tidak mudah rusak
f) Pastikan
bahwa semua kelahiran kematian ibu dan bayi baru lahir tercatat
g) Pelajari
kartu/buku pencatatan secara teratur
h) Setelah
mempelajari seluruh hasil pencatatan buatlah rencana tindak lanjut.
Tujuan
dari standar 2 ini yaitu mengumpulkan, menggunakan dan mempelajari data untuk
pelaksanaan penyuluhan, kesinambungan pelayanan dan penilaian kerja.Hal-hal
yang dapat dilakukan bidan untuk dapat melakukan pencatatan dan pelaporan yang
maksimal adalah sebagai berikut :
§ Bidan harus bekerjasama dengan kader
dan pamong setempat agar semua ibu hamil dapat tercatat
§ Memberikan ibu hamil KMS atau buku
KIA untuk dibawa pulang . Dan memberitahu ibu agar membawa buku tersebut setiap
pemeriksaan.
§ Memastikan setiap persalinan ,
nifas, dan kelahiran bayi tercatat pada patograf.
§ Melakukan pemantauan buku pencatatan
secara berkala .
Hasil yang diharapkan dari
dilakukannya standar ini yaitu terlaksananya pencatatatn dan pelaporan yang
baik. Tersedia data untuk audit dan pengembangan diri, meningkatkan
keterlibatan masyarakat dalam kehamilan , kelahiran bayi dan pelayanan kebidana
2.
ENAM
STANDAR PELAYANAN ANTENATAL
a. STANDAR 3 : Identifikasi Ibu Hamil
Bidan
melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala
untuk memberikan penyuluhan dan motifasi ibu , suami dan anggota keluarganya
agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara
teratur.
Bidan harus :
a) Bekerjasama
dengan kader dan pamong setempat agar semua ibu hamil tercatat
b) Mencatat
dengan seksama semua pelayanan yang diberikan selama kehamilan, persalinan dan
nifas
c) Ibu
diberikan KMS ibu hamil untuk di bawa pulang
d) Lakukan
ketentuan nasional/setempat tentang pencatatan data
e) Jaga agar
kartu/buku pencatatan tersebut tidak mudah rusak
f) Pastikan
bahwa semua kelahiran kematian ibu dan bayi baru lahir tercatat
g) Pelajari
kartu/buku pencatatan secara teratur
h) Setelah
mempelajari seluruh hasil pencatatan buatlah rencana tindak lanjut
Adapun
tujuan yang diharapkan dari penerapan standar ini adalah mengenali dan
memotifasi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya.Kegiatan yang dapat
dilakukan bidan untuk mengidentifikasi ibu hamil contoh nya sebagai berikut:
§ Bidan melakukan kunjungan rumah dan penyuluhan
secara teratur
§ Bersama kader bidan memotifasi ibu
hamil
§ Lakukan komunikasi dua arah dengan
masyarakat untuk membahas manfaat pemeriksaan kehamilan.
Hasil yang
diharapkan dari standar ini adalah ibu dapat memahami tanda dan gejala
kehamilan. Ibu , suami, anggota masyarakat menyadari manfaat pemeriksaan
kehamilan secara dini dan teratur.meningkatkan cakupan ibu hamil yang
memeriksakan diri sebelum kehamilan 16 minggu.
b. STANDAR 4 : Pemeriksaan dan Pemantauan
Antenatal
Bidan
hendaknya paling sedikit memberikan 4 kali pelayanan antenatal. Pemeriksaan
meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai
apakah perkembangan berlangsung normal.bidan juga harus bisa mengenali
kehamilan dengan risti/kelainan , khususnya anemia , kurang gizi , hipertensi ,
PMS/infeksi HIV; memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan
kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas.
Bidan harus :
a) Bekerjasama
dengan kader dan pamong setempat agar semua ibu hamil tercatat
b) Mencatat
dengan seksama semua pelayanan yang diberikan selama kehamilan, persalinan dan
nifas
c) Ibu
diberikan KMS ibu hamil untuk di bawa pulang
d) Lakukan
ketentuan nasional/setempat tentang pencatatan data
e) Jaga agar
kartu/buku pencatatan tersebut tidak mudah rusak
f) Pastikan
bahwa semua kelahiran kematian ibu dan bayi baru lahir tercatat
g) Pelajari
kartu/buku pencatatan secara teratur
h) Setelah mempelajari seluruh hasil pencatatan
buatlah rencana tindak lanjut
Tujuan
yang diharapkan dari standar ini adalah bidan mampu memberikan pelayanan
antenatal berkualitas dan deteksi dini komplikasi kehamilan.
Adapun
hasil yang diharapkan yaitu ibu hamil mendapatkan pelayanan antenatal minimal 4
kali selama kehamilan. Meningkatnya pemanfaatan jasa bidan oleh masyarakat.
Deteksi dini dan penanganan komplikasi kehamilan. Ibu hamil, suami, keluarga
dan masyarakat mengenali tanda bahaya kehamilan dan tahu apa yang harus
dilakukan. Mengurus transportasi rujukan ,jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
c. STANDAR 5 : Palpasi abdominal
Bidan harus
melakukan pemeriksaan abdomen secara seksama dan melakukan palpasi untuk
memperkirakan usia kehamilan. Bila umur kehamilan bertambah , memeriksa posisi,
bagian terendah, masuknya kepala janin kedalam rongga panggul, untuk mencari
kelainan dan untuk merujuk tepat waktu.
Bidan harus :
a) Melaksanakan
palpasi abdominal pada setiap kunjungan antenatal
b) Tanyakan
pada ibu hamil sebelum palpasi yaitu apa yang sedang dirasakan ibu
c) Sebelum
melakukan palpasi abdominal mintalah pada ibu hamil untuk mengosongkan kandung
kencingnya
d) Baringkan
ibu hamil terlentang dengan bagian atas tubuhnya disangga bantal
e) Periksa
abdomen
f) Perkirakan
usia kehamilan
g) Ukur dengan
meteran kain dari simpisis pubis ke fundus uteri, catat hasilnya dalam cm
h) Lakukan
palpasi dengan hati-hati untuk memeriksa letak janin
i)
Dengan dua tangan lakukan palpasi untuk menentukan
bagian bawah janin
j)
Pada trimester 3 jika bagian terbawah janin bukan
kepala persalinan dilakukan di rumah sakit
k) Setelah usia
kehamilan 37minggu terutama pada kehamilan pertama periksa apakah telah terjadi
penurunan kepala janin atau kepala janin teraba hanya 2jari di atas pintu atas
panggul.
l)
Periksa letak
punggung janin dan dengarkan DJJ.
m) Bicarakan
hasil pemeriksaan kepada ibu hamil.
n) Catat semua
hasil pemeriksaan pada KMS
Tujuan
dari dilakukannya standar ini adalah memperkirakan usia kehamilan, pemantauan
pertumbuhan janin, penentuan letak, posisi dibagian bawah janin. Hasil yang
diharapkan yaitu bidan dapat memperkirakan usia kehamilan , diagnosis dini
kelainan letak, dan merujuk sesuai kebutuhan. Mendiagnosisi dini kehamilan
ganda dan kelainan, serta merujuk sesuai dengan kebutuhan.
d. STANDAR 6 : Pengelolaan Anemia pada
Kehamilan
Bidan melakukan tindakan pencegahan
anemia, penemuan, penanganan dan rujukan semua kasusu anemia pada kehamialan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Bidan harus :
a) Memeriksa
kadar Hb
b) Beri tablet zat besi
c) Beri
penyuluhan gizi pada setiap kunjungan antenatal
d) Jika
prevensi malaria tinggi selalu ingatkan ibu hamil untukberhati hati agar tidak
tertular malaria
e) Jika ditemukan/di duga anemia berikan 2-3 kali
satu tablet zat besi perhari.
f) Rujuk ibu
hamil dengan anemia untuk pemeriksaan terhadap cacing/parasit atau penyakit
lain sekaligus pengobatannya.
g) Jika di duga
anemia berat segera rujuk ibu hamil,untuk pemeriksaan dan perawatannya
lainnya.anemia berat pada bumil TMIII perlu di berikan zat besi dan asam folat
secara IM
h) Rujuk ibu
hamil dengan anemia berat untuk rencana bersalin di rumah sakit
i)
Sarankan bumil dengan anemia untuk tetap minum tablet
zat besi sampai 4-6 bulan setelah persalinan
INGAT
§ Anemia pada
kehamilan merupakan masalah besar yang dampak buruk terhadap kehamilan /
persalinan ibu
§ Jika
prevalensi malaria tinggi tekanan untuk menggunakan kelambu dan pembrantas
nyamuk
§ Pencegahan
anemia pada kehamilan di mulai dari pemberian makanan bergizi bagi anak
perempuan utamanya pada remaja putrid
§ Pada ibu
hamil dengan anemia, syo dapat terjadi pada perarahan yang sedikit sekalipun.
Tujuan
dari standar ini adalah bidan mampu menemukan anemia pada kehamilan secara
dini, melakukan tindak lanjut yang memadai untuk mengatasi anemia sebelum
persalinan berlangsung.
Tindakan
yang bisa dilakukan bidan contohnya , memeriksakan kadar Hb semua ibu hamil
pada kunnjungan pertama dan minggu ke 28. Memberikan tablet Fe pada semua ibu
hamil sedikitnya 1 tablet selama 90 hari berturut-turut . beripenyuluhan gizi
dan pentingnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi, dll.
Hasil yang
diharapkan dari pelaksanaan standar ini yaitu jika ada ibu hamil dengan anemia
berat dapat segera dirujuk, penurunan jumlah ibu melahirkan dengan anemia,
penurunana jumlah bayi baru lahir dengan anemia/BBLR.
e. STANDAR 7 : Pengelolaan Dini
Hipertensi Pada Kehamilan
Bidan
menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali
tanda gejala preeklamsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan
merujuknnya.
Bidan harus :
a) Memeriksa
tekanan darah secara tepat pada setiap pemeriksaan kehamilan termasuk
pengukuran tekanan darah dengan teknik yang benar.
b) Melakukan
pemeriksaan pada setiap pagi hari : apakah tensimeter berfungsi baik.
c) Ukuran
tekanan darah pada lengan kiri. Posisi ibu hamil duduk atau berbaring dengan
bagian kiri punggung disangga dengan banta Letakkan tensimeter di tempat yang
datar, setinggi jantung ibu hamil.Gunakan ukuran manset yang sesuai.
d) Catat
tekanan darah.
e) Jika tekanan
darah di atas 140/90 mmHg atau peningkatan diastole 15 mmHg atau lebih (sebelum
16 minggu), ulangi pengukuran tekanan darah dalam 1 jam. Bila tetap, maka
berarti ada kenaikan tekanan darah, periksa adanya edema, terutama pada wajah
atau pada tungkai bawah/tulang kering dan daerah sakral (pembengkakan jari dan
pergelangan kaki mungkin bersifat fisiologis, terutama karena cuaca panas atau
karena berjalan/berdiri lama).
f) Bila ditemukan
hipertensi pada kehamilan, lakukan pemeriksaan urine terhadap albumin pada
setiap kali kunjungan.
g) Rujuk ibu
hamil ke rumah sakit, jika ditemukan :
§ Kenaikan
tekanan darah dengan proteinuria ( + + atau lebih)/tanpa edema.
§ Edema pada
punggung tangan atau wajah yang timbul mendadak.
Catat, bila ibu tidak di rujuk dan kenaikan tekanan darah 160/110 mmHg,
berikan Metildopa 250 mg peroral dilanjutkan dengan dosis yang sama setiap 8
jam.
h) Segera rujuk
ibu hamil ke Rumah sakit jika :
§ Tekanan
darah sangat tinggi ( misalnya diatas 160/110 mmHg ) atau lebih
§ Kenaikan
tekanan darah terjadi secara tiba-tiba,atau
§ Berikutnya air seni ( sedikit dan berwarna
gelap ), atau
§ Edema berat
yang timbul mendadak, khususnya pada wajah/daerah secara/punggung bawah atau
proteinuria.
i)
Jika tekanan darah naik namun tidak ada edema,
sedangkan dokter tidak mudah dihubungi , maka pantaulah tekanan darah, periksa
urine terhadap proteinuria dan denyut jantung janin dengan seksama pada
keesokan harinya atau sesudah 6 jam istirahat.
j)
Jika tekanan darah tetap naik, rujuk untuk pemeriksaan
lanjutan, walaupun tak ada oedema atau proteinuria.
k) Jika tekanan
darah kembali normal, atau kenaikannya kurang dari 15 mmHg :
§ Beri
penjelasan pada ibu hamil, suami/keluarganya tentang tanda-tanda eklamsia yang mengancam,
khususnya sakit kepala, pandangan kabur, nyeri ulu hati dan pembengkakan
mendadak pada kaki/punggung/wajah.
§ Jika tanda tersebut ditemukan. Segera rujuk ke
rumah sakit.
l)
Bicarakan seluruh temuan dengan ibu hamil dan
suami/keluarga.
m) Catat semua
temuan pada KMS ibu hamil/kartu ibu.
Tujuan
dari dilakukannya standar ini yaitu bidan dapat mengenali dan menemukan secaea
dini hipertensi pada kehamilan dan melakukan tindakan yang diperlukan. Adapun
tindakan yang dapat dilakukan bidan yaitu rutin memeriksa tekanan darah ibu dan
mencatatnya. Jika terdapat tekanan darah diatas 140/90 mmHg lakukan tindakan
yang diperlukan.
Hasil
yang diharapkan dari pelaksanaan standar ini adalah ibu hamil dengan tanda
preeklamsia mendapat perawatan yang memadai dan tepat waktu. Penurunan angka
kesakitan dan kematian akibat eklamsia.
f. STANDAR 8 : Persiapan Persalinan
Bidan memberikan saran yang tepat
kepada ibu hamil, suami atau keluarga pada trimester III memastikan bahwa
persiapan persalinan bersih dan aman dan suasana menyenangkan akan direncanakan
dengan baik, disamping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila
tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat.Bidan mengusahakan untuk melakukan
kunjungan ke setiap rumah ibu hamil untuk hal ini.
Bidan harus :
a) Mengatur
pertemuan dengan ibu hamil dan suami/keluarganya pada TM ke-3 untuk
membicarakan tempat persalinan dan hal-hal yang perlu diketahui dan
dipersiapkan.
b) Melaksanakan
seluruh pemeriksaan antenatal (lihat standar 5), termasuk anamnesis dan riwayat
obstetri secara rinci, sebelum memberikan nasehat.
c) Memberikan
informasi agar mengetehui saat akan melahirkan dan kapan harus mencari
pertolongan, termasuk pengenalan tanda bahaya. (Ketuban pecah sebelum waktunya
dan perdarahan pada kehamilan yang bukan darah lendir normal / show perlu
pertolongan secepatnya ).
d) Jikadirencanakan
persalinan dirumah atau didaerah terpencil :
§ Beritahukan
kepada ibu hamil perlengkapan yang diperlukan untuk persalinan yang bersih dan
lama. Paling sedikit tersedia tempat yang bersih untuk ibu berbaring sewaktu
bersalin, sabun yang baru, air bersih dan handuk bersih untuk cuci tangan; kain
bersih dan hangat untuk membersihkan dan mengeringkan bayi serta ruangan yang
bersih dan sehat.
§ Atur agar
ada orang yang dipilih oleh ibu sendiri untuk membantu persalinan. (Harus
disepakati tentang bagaimana dan kemana merujuk, jika terjadi
kegawat-daruratan)
§ Beri
penjelasan kepada ibu hamil kapan memanggil bidan. (misalnya jika ketuban pecah
atau timbulnya rasa mulas yang teratur)
§ Sebagai
persiapan untuk rujukan, atau transportasi ke rumah sakit bersama ibu hamil dan
suami/keluarganya. (Termasuk persetujuan jenis dan biaya transportasi yang
diperlukan bila terjadi keadaan darurat)
e) jika
direncanakan persalinan di rumah sakit atau tempat lainnya :
§ Beri penjelasan
pada ibu hamil dan suami/keluarganya tentang kapan kerumah sakit dan
perlengkapan yang diperlukan. Hal ini dapat berbeda tergantung keadaan, tapi
setidaknya diperlukan sabun dan handuk bersih, pakaian bersih untuk ibu dan
bayi serta pembalut wanita.
§ Ibu hamil
dengan kondisi di bawah ini, sebaiknya di anjurkan untuk melahirkan di rumah
sakit :
a. Pernah
mengalami persalinan sulit atau lahir mati.
b. Pernah
menjalani bedah sesar.
c. Anemia berat
d. Penyakit
kronis : kencing manis, jantung, asma berat, TBC.
e. Perdarahan
antepartum.
f. Preeklamsia
pada kehamilan sekarang.
g. Kelainan
letak/posisi janin.
h. Kehamilan ganda.
i.
Kehamilan ke-5 atau lebih terutama pada ibu hamil
dengan status sosial rendah atau kurang energi kronis.
j.
Primigravida sangat muda (dibawah 15 tahun) atau multiparitas
dengan usia diatas 40 tahun.
k. Kehamilan
kurang bulan sudah inpartu.
Tujuan
dari dilakukannya standar ini adalah untuk memastikan bahwa persalinan
direncanakan dalam lingkungan yang aman
dan memadai dengan pertolongan bidan terampil. Hasil yang diharapkan
adalah ibu hamil, suami dan keluarga tergerak untuk merencanakan persalinan
yang bersih dan aman. Persalinan direncanakan di tempat yang aman dan memadai
dengan pertolongan bidan terampil. Adanya persiapan sarana transportasi untuk
merujuk ibu bersalin,jika perlu. Rujukan tepat waktu telah dipersiapkan bila
diperkirakan
.
3.
EMPAT
STANDAR PELAYANAN PERSALINAN
a. STANDAR 9 : Asuhan Persalinan Kala
Satu
Bidan
menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian memberikan asuhan
dan pemantauan yang memadai , dengan memperhatikan kebutuhan ibu, selama proses
persalinan berlangsung. Bidan juga melakuakan pertolongan proses persalinan dan
kelahiran yang bersih dan aman, dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap hak
pribadi ibu serta memperhatikan tradisi setempat. Disamping itu ibu diijinkan
memilih orang yang akan mendampinginya selam proses persalinan dan kelahiran.
Bidan harus :
a) Segera
mendatangi ibu hamil ketika diberitahu persalinan sudah mulai/ketuban pecah.
b) Melaksanakan
pemeriksaan kehamilan dengan memberikan perhatian terhadap tekanan darah,
teratur tidaknya his dan DJJ, bila ketuban sudah pecah.
c) Catat semua
temuan pemeriksaan dengan tepat. Jika ditemukan kelainan, lakukan rujukan ke
Puskesmas/Rumah sakit.
d) Lakukan
pemeriksaan dalam secara aseptik dan sesuai dengan kebutuhan. (Jika his teratur
dan tidak ada hal yang mengkhawatirkan atau his lemah atau tanda-tanda vital
ibu/janin normal, maka tidak segera dilakukan pemeriksaan dalam).
e) Dalam
keadaan normal periksa dalam cukup setiap 4 jam dan HARUS selalu secara DTT.
f) Jika pada
fase aktif, catat semua temuan dalam partograf dan kartu ibu.
g) Anjurkan ibu
untuk mandi dan tetap aktif seperti biasa, dan memilih posisi yang dirasakan
nyaman kecuali jika belum terjadi penurunan kepala sementara sementara ketuban
sudah pecah. ( Riset membuktikan banyak keuntungannya jika ibu tetap aktif
bergerak semampunya dan merasa senyaman mungkin ).
h) Amati
kontraksi dan DJJ sedikitnya setiap 30 menit pada kala I pada akhir kala I atau
jika kontraksi sudah sangat kuat, periksa DJJ setiap 15 menit.
i)
Catat dan amati penurunan kepada janin dengan palpasi
abdomen setiap 4 jam.
j)
Catat tekanan darah setiap 4 jam.
k) Minta ibu
hamil untuk sering buang air kecil sedikitnya setiap 2 jam.
l)
Pada persalinan normal, mintalah ibu untuk banyak
minum guna menghindari dehidrasi dan gawat janin. ( Riset menunjukan bahwa,
pada persalinan normal tidak ada gunanya untuk mengurangi minum dan makan
makanan kecil yang mudah di cerna ).
m) Selama
persalinan, beri dukungan moril dan perlakuan yang baik dan peka terhadap
kebutuhan ibu hamil, suami/keluarga/orang terdekat yant mendampingi.
n) Jelaskan proses persalinan yang sedang terjadi
pada ibu, suami dan keluarganya. Beritahu mereka kemajuan persalinan secara
berkala.
o) Segera catat
semua temuan pada partograf dan kartu ibu.
p) Saat proses
persalinan berlangsung, bersiaplah untuk kelahiran bayi. ( Lihat standar 10 ).
q) Lakukan
pertolongan persalinan yang bersih dan aman
Tujuan
dari dilakukannya standar ini yaitu untuk memberikan pelayanan kebidanan yang
memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang bersih dan aman untuk ibu
bayi. Hasil yang diharapkan adalah ibu berssalin mendapatkan pertolongan yang
aman dan memadai. Meningkatnya cakupan persalinan dan komplikassi lain yang
ditangani oleh tenaga kesehatan. Berkurangnya kematian/kesakitan ibu bayi
akibat partus lama.
b. STANDAR 10 : Persalinan Kala Dua
Yang Aman
Bidan
melakukan pertolongan persalinan bayi dan plasenta yang bersih dan aman, dengan
sikap sopan dan penghargaann terhadap hak pribadi ibu serta memperhatikan
tradisi setempat . disamping itu ibu diijinkan untuk memilih siapa yang akan
mendampinginya saat persalinan.
Bidan harus :
a) Memastikan
tersedianyaruangan yang hangat, juga kain untuk mengeringkan bayibaru lahir.
Tenpat untuk plasenta. (jika ibu belum mandi, bersihkan daerah perineum dengan
air bersih).
b) Cuci tangan
dengan sabun dan air bersih, kemudian keringkan hingga betul-betul kering
dengan handuk bersih. (kuku harus dipotong pendek dan bersih).
c) Bantu ibu
mengambil posisi yang paling nyaman baginya. (Riset menunjukkan bahwa posisi
duduk dan jongkok memberikan banyak keuntungan).
d) Anjurkan ibu
untuk meneran hanya hanya jika merasa ingin atau saat kepala bayi sudah
kelihatan. (Riset menunjukkan bahwa menahan nafas sambil meneran adalah berbahaya,
dan meneran sebelum kepala bayi tampak tidaklah perlu. Bahkan meneran, sebelum
pembukaan serviks lengkap adalah berbahaya). Jika kepala belum terlihat
,padahal ibu ingin meneran sudah sangat ingin membuka meneran periksa pembukaan
servisk dengan periksa dalam. Jika pembukaan belum lengkap keinginan meneran
bisa dikurangi dengan memiringkan ibu kesisi sebelah kiri.
e) Pada kala
11, dengarkan djj setiap his berakhir,irama dan frekuensinya.ha rus kembali
dengan normal.cari pertolongan medis (jika kepala sudah meregangkan perenium
dan terjadi kelambatan kemajuan persalinan atau djj menurun sampai 120 /mnt
atau kurang atau meningkat menjadi 160/mnt atau lebih ,maka percepatan
persalinan dengan menggunakan episiotomi .lihat standar 12).
f) Hindari
peregangan vagina secara manual dengan gerakan menyapu atau menariknya ke arah
luar .(riset menunjukkan hal tersebut berbahaya)
g) Pakai sarung
tangan sedapat mungkin, saat kepala bayi kelihatan.
h) Jika ada
kotoran keluar dari rektum ,bersihkan dengan kain kering.
i)
Bantu kepala bayi lahir berlahan ,sebaiknya di antara
his .(riset menunjukkan bahwa robekan tingkat 2 dapat sembuh sama baiknya
dengan luka episiotomi ,sehingga tidak perlu menggunting perenium ,kecuali
terjadi gawat janin atau kemungkitan terjadi robekan tingkat ketiga yang
mengenai rektum )
j)
Begitu kepala bayi lahir ,bahu bayi akan memutar (hal
ini seharusnya terjadi spontan ,sehingga bayi tidak perlu dibantu .jika bahu
bayi tidak memutar ikuti standar 18)
k) Begitu bahu sudah pada posisi anterior
–posterior yang bener bantulah persalinan
l)
Segera setelah lahir ,keringkan bayi dengan handuk
bersih dan hangat ,dan berikan kepada ibu atau di letakkan di dadanya untuk di
susui .(riset ini menunjukkan hal ini penting untuk keberhasilan dalam
memberikan asi dan untuk memmbantu pelepasan plasenta .kontak kulit dengan
kulit adalah cara yang baik untuk menjaga kehangan bayi .sementara handuk di
selimutkan pada punggung bayi .jika bayi tidak didekap oleh ibunya ,selimuti
bayi dengan kain bersih dan hangat .tutupi kepala bayi agar tidak kehilangan
panas)
m) Pembersihan
jalan nafas tidak selalu di perlukan .jika bayi tidak menangis spontan ,gunakan
penghisap lendir untuk pembersihan jalan nafas ( lihat standar 25)
n) Tali pusat
di klem di dua tempat ,lalu potong di antara dua klem dengan gunting steril
yang tajam .
o) Perhatikan
tanda pelepasan plasenta (fundus membulat dan mengeras ,darah meleleh ,tinggi
fundus meningkat ,tali pusat memannjang )kemudian mintalah ibu meneran saat his
berikutnya .pegang dan regangkan tali pusat ,jangan di tarik kemudian plasenta
akan lahir dan terimalah dengan kedua tangan .periksa kelengkapannya.
p) Letakkan
tangan di fundus uteri untuk memeriksa kontraksi .palpasi uterus jika tidak
keras ,keluarkan bekuan darah dan lakukan pengusapan /masase fundus dengan
hati-hati agar terjadi kontraksi uterus .perkiraan jumlah kehilangan darah
secara akurat .(ingat perdarahandan sulit di ukur dan sering di perkirakan
lebih sedikit)
q) Lakukan
pemeriksaan bayi ,perawatan mata dan prosedur lain untuk perawatan bayi baru
lahir .
r) Bersihkan
perenium dengan air bersih dan tutupi dengan air bersih /telah di jemur .
s) Berikan
plasenta dengan suami /keluarga ibu
t) Pastikan
agar ibu dan bayi merasa nyaman .berikan bayi kepada ibu untuk di berikan asi .
u) Catat semua
temuan dengan seksama.
Tujuan
dari diterapkannya standar ini yaitu memastikan persalinan yang bersih dan aman
bagi ibu dan bayi. Hasil yang diharapkan yaitu persalinan dapat berlangsung
bersih dan aman. Menigkatnya kepercayaan masyarakat kepada bidan. Meningkatnya
jumlah persalinan yang ditolong oleh bidan. Menurunnya angka sepsis
puerperalis.
c. STANDAR 11 : Penatalkasanaan Aktif Persalinan
Kala Tiga
Secara
aktif bidan melakukan penatalaksanaan aktif persalinan kala tiga. Tujuan
dilaksanakan nya standar ini yaitu membantu secara aktif pengeluaran plasenta
dan selaput ketuban secara lengkap untuk mengurangi kejadian perdarahan pasca
persalinan kala tiga, mencegah terjadinya atonia uteri dan retesio plasenta.
Persyaratan:
a) Bidan sudah
terlatih dalam membantu mengeluarkan plasenta secara lengkap dengan menegangkan
tali pusat secara benar .
b) Adanya alat
dan bahan untuk melahirkan plasenta ,termasuk air bersih larutan klorin0,5%
untuk dekontaminasi ,sabun dan handuk bersih untuk cuci tangan ,juga tempat
untuk plasenta .sebaiknya bidan menggunakan sarung tangan yang bersih .
c) Tersedia
oksitosika yang di kirim dan di simpan dengan benar.
Proses:
§ Masukkan
oksitosika (oksitosin 10 iu im )kedalam alat suntik menjelang persalinan
§ Setelah bayi
lahir ,periksa kemungkinan ada bayi kembar .jika tidak ada beri oksitosika
secara im secepatnya .(kecuali jika terdapat hal lain yang mengharuskan
pemberian secara iv )
§ Tunggu tanda terlepasanya plasenta (yaitu fundus mengeras dan bulat,
keluarnya tetesan darah, fundus naik, tali pusat memanjang) periksa fundus
untuk mengetahui adanya kontraksi, keluarkan gumpalan jika perlu.
§ Bantu ibu
untuk bersandar atau berbaring untuk pengeluaran plasenta dan selaputnya.
§ Jika
plasenta sudah terlepas dari dinding uterus, letakkan tangan kiri di atas
simfisis pubis untuk menahan korpus uteri, dan regangkan tali pusat dengan
tangan yang lain tetapi jangan ditarik. Mula – mula regangkan diarahkan
kebawah, lalu secara perlahan diregangkan kearah atas dengan mengikuti sumbu
jalan lahir. Jangan menekan fundus karena dapat mengakibatkan inversio uteri.
§ Jika
plasenta sudah tampak dari luar, secara bertahap tarik keatas sehingga plasenta
mengikuti jalan yang sama dengan bayi. Lepaskan tangan kiri dari perut, untuk
menerima plasenta.
§ Keluarkan
selaput dengan hati-hati. (Hal ini harus dikerjakan secara perlahan dan
hati-hati. Jangan ditarik karena selaput mungkin robek).
§ Begitu
plasenta sudah lahir secara lengkap, periksa apakah uterus berkontraksi dengan
baik. (Mungkin perlu mengeluarkan gumpalan darah, dan mengusap fundus dari luar
agar uterus berkontraksi, jika uterus tidak keras dan bulat).
§ Taksir jumlah kehilangan darah
secermat-cermatnya.
§ Periksa
apakah plasenta telah dilahirkan secara lengkap. Jika tidak lengkap, ulangi
pemberian oksitosin jika perdarahan tidak banyak dan rumah sakit dekat, ibu
segera dirujuk. Bila perdarahan banyak dan rumah sakit jauh, lakukan placenta
manual (lihat standar 21) untuk penanganan perdarahan, lihat standar 22.
§ Bersihkan
vulva dan perineum dengan air bersih, tutup dengan pembalut wanita/kain kering
yang bersih.
§ Periksa
tanda-tanda vital. Catat semua temuan secermat-cermatnya.
§ suami/keluarga
ibu.Berikan plasenta kepada
Adapun
hasil yang diharapkan yaitu menurunkan terjadinya perdarahan yang hilang pada
persalinan kala tiga. Menurunkan terjadinya atonia uteri, menurunkan terjadinya
retensio plasenta , memperpendek waktu persalinan kala tiga, da menurunkan
perdarahan post partum akibat salah penanganan pada kala tiga.
d. STANDAR 12 : Penanganan Kala Dua
Dengan Gawat Janin Melalui Episiotomi
Bidan
mengenali secra tepat tanda-tanda gawat janin pada kala dua, dan segera
melakukan episiotomy dengan aman untuk mmemperlancar persalinan, diikiuti
dengan penjahitan perineum.
Tujuan
dilakukannya standar ini adalah mempercepat persalinan dengan melakukan
episiotomy jika ada tanda-tanda gawat janin pada saat kepala janin meregangkan
perineum. Hasil yang diharapkan yaitu penurunan kejadian asfiksia neonnaturum
berat. Penurunan kejadian lahir mati pada kala dua .
Bidan harus
:
a) Mempersiapkan
alat-alat steril untuk tindakan ini. Memberitahu ibu tentang perlunya
episiotomi dilakukan dan yang akan dirasakanya.
b) Anastesi
lokal diberikan pada saat his. Sebelum menyuntikkanya, tarik jarum sedikit
(untuk memastikan jarum tidak menembus pembuluh darah) masukkan dua jari tangan
kiri ke dalam vagina untuk melindungi kepala bayi, dan dengan tangan kanan
tusukkan jarum sepanjang garis yang akan digunting (sebaiknya dilakukan insisi
medio-lateral). Masukkan anestesi perlahan-lahan, sambil tarik alat suntik
perlahan sehingga garis yang akan di gunting teranestesi.
c) Tunggu satu
menit agar anestesinya bekerja, lakukan tes kekebalan.
d) Pada puncak
his beriutnya, lindungi kepala janin seperti diatas, kemudian lakukan
pengguntingan tunggal yang mantap.
e) Lindungi
kepala bayi dengan tangan kiri agar kelahiran kepala terkendali dan tidak
terlalu cepat. Minta ibu untuk meneran di antara dua his. Kemudian lahirkan
bayi secara normal.
f) Begitu bayi
lahir, tutupi perineum dengan pambalut steril dan lakukan resusitasi neonatus
jika diperlukan.
g) Lahirkan
plasenta secara lengkap, sesuai standar 11.
h) Segera
sesudah plasenta dikeluarkan, lakukan
penjahitan secara aseptik dengan peralatan yang steril.
i)
Lakukan penjahitan secara berlapis. Mulai dari vagina,
lalu perineum.
j)
Sesudah penjahitan, masukkan jari dengan hati-hati
kerektum untuk memastikan bahwa panjahitan tidak menembus dinding rektum. Bila
hal tersebut terjadi, lapaskan jahitan dan lakukan jahitan ulang. Periksa
vagina dan pastikan tidak ada bahan yang tertinggal.
k) Bersihkan
perineum dengan air bersih, usahakan agar ibu merasa bersih dan nyaman. Periksa
apakah perdarahan dari daerah insisi sudah berhenti. Bila perdarahan masih ada
periksa sumbernya. Bila berasal dari luka episiotomi, temukan titik perdarahan
dan segera ikat jika bkan, ikuti standar 22.
l)
Pastikan bahwa ibu diberitahu agar menjaga perineum
tetap bersih dan kering, serta menggunakan pembalut wanita yang steril/kain
kering yang bersih.
m) Catat semua temuan secermat-cermatnya.
Riset menunjukkan ;
§ Robekan
perineum akan sembuh sabaik luka pengguntingan, sehingga kekhawatiran akan
terjadinya robekan perineum bukan merupakan indikasi episiotomi.
§ Episiotomi
yang efektif dan tepat waktu dapat menyelamatkan jiwa janin yang mengalami
gawat janin.
§ Semakin
cepat episiotomi dijahit maka semakin kecil resiko terjadinya infeksi.
4.
TIGA
STANDAR PELAYANAN NIFAS
a. STANDAR 13 : Perawatan Bayi Baru
Lahir
Bidan
memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan,
mencegah asfiksia, menemukan kelainan , dan melakukan tindakan atau merujuk
sesuai kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermi dan
mencegah hipoglikemia dan infeksi.
Penanganan hipotermi
a) Letakkan
bayi pada dada ibu sehingga terjadi kontak kulit antara keduanya
b) Sarankan ibu
untuk serig memberikan ASI.
c) Jaga agar ruangan tetap hangat dan bebas asap
d) Selimuti ibu
e) Berikan
minum yang hangat untuk ibu
f) Periksa suhu
tubuh bayi setia jam
g) Jika suhu
tubuh bayi tidak naik segera rujuk, pertahankan kontak kulit bayi dengan kulit
ibu
Tujuan
nya adalah menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernafasan
serta mencegah hipotermi, hipoglikemi dan infeksi. Dan hasil yang diharapkan
adalah bayi baru lahir menemukan perawatan dengan segera dan tepat. Bayi baru
lahir mendapatkan perawatan yang tepat untuk dapat memulai pernafasan dengan
baik.
b. STANDAR 14 : Penanganan pada dua jam pertama
setelah persalinan
Bidan melakukan pemantauan ibu dan
bayi terhadap terjadinya komplikasi paling sedikit selama 2 jam stelah
persalinan, serta melakukan tindakan yang diperlukan. Disamping itu, bidan
memberikan penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu,
dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.
Bidan harus:
a) Segera
kerngkan bayi segera stlah lahir, nilai ap bayi sukar bernafas. Ikuti standart
25
b) Jika keadaan
umum bayi baik letakkan bayi di dada ibu selimuti bayi atau bungkus bayi dengan
kain yang kering dan bersih jaga agar bayi tetap hangat
c) Raba fundus
uteri lakukan masase uterus agar fundus berkontraksi periksa setiap 15 menit.
d) Jika
perdarahan pervaginam banyak segera lakukan tindakan sesuai dengan standart 22
agar tidak terlambat.
e) Segera bantu
ibu agar dapat menyusu, atur posisi bayi agar melekat dan menghisap dengan
benar.
f) Cuci tangan
dan lakukan pemeriksaan fisik pada bayi berikan perawatan lain yang di perlukan
bayi sesuai standart 13
g) Bila bayi
tidak perlihatkan tanda kehdupan setelah dilakukan resusitasi beritahu orang
tua bayi. Berikan penjelasan secara sederhana dan jujur. Biarkan orang tua
melakaukan upacara untuk bayi meninggal sesuai dengan adat atau kepercayaan
mereka. Setelah orang tua bayi tenang bantulah mereka dan perlakukan bayi
mereka dengan penuh perhatian
h) Mintalah ibu
untu buang air kecil dalam 2 jam pertama setelah melahirkan, bila kantong kemih
penuh dan ibu tidak dapatBAK lakukan kateter
i)
Bantu ibu bersihkan tubuhnya ganti pembalut dan
pakaian ibu. Berikan penjelasan perubahan- perubahan yang terjadi pasca
persalinan
j)
Catat semua yang ditemukan
k) Sebelum
meninggalkan ibu beritahu suami atau keluarga bagaimana caranya meminta
pertolongan jika terjadi gangguan
l)
JANGAN
meninggalkan ibu dan bayi sampai mereka dalam keadaan baik dan semua catatan
baik dan lengkap. Jika ada hal mengkhawatirkan lakukan rujukan ke rumah sakit.
Tujuan nya
adalah mempromosikan perawatan ibu dan bayi yang bersih dan aman selama
persalinan kala empat untuk memulihkan kesehatan ibu dan bayi. Meningkatan
asuhan sayang ibu dan sayang bayi. Memulai pemberian ASI dalam waktu 1 jam
pertama setelah persalinan dan mendukung terjadinya ikatan batin antara ibu dan
bayinya.
c. STANDAR 15 : Pelayanan Bagi Ibu dan
Bayi Pada Masa Nifas
Bidan
memberikan pelayanan selama masa nifas di puskesmas dan rumah sakit atau
melakukan kunjungan ke rumah paa hari ke-tiga, minggu ke dua dan minggu ke enam
setelah persalinan, untuk membantu proses penatalaksanaan tali pusat yang
benar, penemuan dini, penatalaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin
terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara
umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir ,
pemberian ASI , imunisasi dan KB.
PROSES
a) Pada
kunjungan rumah sapalah ibu dan suami atau keluarga pasien dengan ramah.
b) Tanyakan
apakah ada masalah dengan ibu dan bayinya
c) Cuci tangan
sebelum dan sesudah memeriksaibu dan bayi
d) Lakukanlah
pemeriksaan lengkap bagi ibu dimulai KU, status present, involusi uterus
sekitar 2cm/hari selama 18 hari pertama, periksa lokhea. Yang pada hari ketiga
harusnya mulai berwarna kecoklatan dan pada hari ke 8-10 hari menjadi sedikit
dan berwarna merah muda jika ada kelainan segera dirujuk(jika di curigai sepsis
puerpuralis gunakan standart 24. Untuk penangan perdarahan post partum sekunder
gunakan standart 23.
e) Bila ibu
menderita anemia semasa hamil atau mengalami perdarahan berat selama proses
persalinan periksa Hb pada hari kerja. Nasehati ibu supaya makan
makanan bergizi dan berikan tablet tambah darah.
f) Berikan
penyuluhan kepada ibu tentang pentingnya menjaga kesehatan diri, memakai
pembalut bersih, mkanan bergizi, istrahat cukup.
g) Cucilah
tangan lalu periksa bayi
h) Perhatikan KU
bayi tanyakan pada ibu pemberian asi berapa kali bayi buang air dan bentuk
fesesnya.
i)
Perhatikan
warna kulit bayi
j)
Bicarakan pemberian ASI dengan ibu, dan bila mungkin
perhatikan apakah bayi menetek dengan baik
k) Nasehati ibu
untuk hnya beri ASI pada bayi selama 4 bulan
l)
Bicarakan tentang KB dan kapan sengggama dapat dimulai
m) Catat dengan
tepat semua hal yang ditemukan
n) Jika ada hal
yang tidak normal segera rujuk ibu
Tujuannya
adalah memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah
persalinan dan memberikan penyuluhan ASI eksklusif.
5.
SEMBILAN
STANDAR PENANGANAN KEGAWATAN OBSTETRI DAN NEONATAL
a. STANDAR 16 : Penanganan Perdarahan
Dalam Kehamilan Pada Trimester Tiga
Bidan
mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada kehamilan serta melakukan
pertolongan pertama dan merujuknya.
BIDAN HARUS
a) Memeriksa
dan merujuk ibu hamil perdarahan dari jalan lahir
b) Berikan
penyuluhan bahaya perdarahan dari jalan lahir sebelum bayi lahir kepada ibu dan
suami atau keluarga pada setiap kunjungan
c) Nasehati ibu
hamil suami atau keluarganya untuk memanggil bidan bila terjadi perdarahan atau
nyeri hebat di daerah perut kapan pun dalam kehamilan
d) Lakukan
penilaian ku ibu dan perkirakan usia kehamilannya
e) Hindari
periksa dalam
f) Berikan
cairan IV Nacl atau RL dengan tetesan cepat sesuai kondisi ibu
g) Bila
terlihat tanda syok segera rujuk ibu ke Rumah sakit
h) Buat catatan
lengkap
i)
Dampingi ibu yang di rujuk
Ikuti langkah-langkah merujuk
Tujuan dari dilakukannya standar ini adalah mengenali dan
melakukan tindakan secara tepat dan cepat perdarahan pada trimester tiga.
Hasil yang diharapkan dari kemampuan bidan dalam menerapkan
standar ini adalah ibu yang mengalami perdarahan kehamilan trimester tiga dapat
segera mendapatkan pertolongan, kematian ibu dan janin akibat perdarahan pada
trimester tiga dapat berkurang , dan meningkatnya pemanfaatan bidan sebagai
sarana konsultasi ibu hamil.
b. STANDAR 17 : Penanganan
Kegawatdaruratan pada Eklamsia
Bidan
mengenali secara tepat dan gejala eklamsia mengancam, serta merujuk dan/atau
memberikan pertolongan pertama.
BIDAN HARUS
a) Selalu
waspada terhadap gejala dan tanda eklamsia
b) Catat tekanan darah ibu
c) Cari
pertolongan segera untuk mengatur rujukan ibu ke rumah sakit
d) Baringkan
ibu pada posisi miring kiri
e) Berikan
cairan IV dengan tetesan lambat dan catat semua cairan yang masuk dan keluar
f) Jika terjadi
kejang, letakkan ibu dilantai dan jauhkan dari bendayang dapat melukainya
g) Jika terjadi
kejang berikan MgSO4 sesuai pedoman
h) Bila ibu
mengalami koma, pstikan posisi ibu dibaringkan miring kiri, dengan kepala
sedikit ditengadahkan agar jalan nafas sedikit terbuka
i)
Catat semua obat yang diberikan , keadaan ibu ,
termasuk tekanan darahnya setiap 10 menit
j)
Bawa segera ibu kerumah sakit setelah serangan kejang
berhenti dampingi ibu dalam perjalanan dan berikan obat-obatan lagi jika perlu
Tujuan
dilaksanakan satandar ini adalah mengenali tanda gejala preeklamsia berat dan
memberikan perawatan yang tepat dan memadai. Mengambil tindakan yang tepat dan
segera dalam penanganan kegawat daruratan bila eklamsia terjadi.
Hasil
yang diharapkan yaitu penurunan kejadian eklamsia. Ibu hamil yang mengalami
preeklamsia berat dan eklamsia mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Ibu
dengan tanda-tanda preeklamsia ringan mendapatkan perawatan yang tepat. Penurunan
kesakitan dan kematian akibat eklamsia.
c. STANDAR 18 : Penanganan
Kegawatdaruratan Pada Partus Lama / macet
Bidan
mengenali secara tepat tanda gejala partus lama/macet serta melakukan
penanganan yang memadai dan tepat waktu untuk merujuk untuk persalinan yang
aman.
a) Pantau dan
catat secara berkala keadaan ibu dan janin dalam lembar partograf
b) Jika
pencatatan melewati garis waspada maka
lalukan palpasi uterus dengan teliti untuk mendeteksi gejala gejala dan tanda
bandl ring
c) Minta ibu buang air kecil bila kantong kemih
penuh
d) Cuci tangan, lakukan periksa dalam menggunakan sarung tangan ingat selalu selalu
tindakan antiseptic
e) Jika ada
tanda gejala persalinan macet atau tanda bahaya pada bayi atau ibu maka ib
dibarigkan ke kiri dan berikan cairan iv sesuai pedoman
f) Jika dicurigai adanya rupture uteri (his
tiba-tiba berhenti atau syok berat) maka rujuk segera dengan infuse terpasang
g) Bila kondisi ibu/bayi buruk dan pembukaan
serviks sudah /hampir lengkap maka bantu kelahiran bayi dengan vacum ekstraksi.
h) Bila
keterlambatan kelahiran bayi terjadi (distosia bahu) raba perut ibu dan periksa
apakah bahu sudah berada do bawah pintu atas panggul. Jika belum maka trkan
perut ibu dengan satu tangan dan lihat apakah bahu bayi masuk,jangan memaksa
bahu bayi masukkedalam pelvis sebab tindakan itu berbahaya. Jangan mencoba
menarik bahu keluar sebelum bahu bayi dalam posisi yang benar.
i)
Buat pencatatan
yang benar
j)
Bila terdapat tanda-tanda lelelaha ibu berikan
tambahan infuse dextrose 5%
Tanda gejala persalinan macet :
§ Ibu tampak
kelelahan dan lemah
§ Kontraksi
sering, tidak teratur tetapi kuat
§ Dilatasiserviks
lambat atau tidak terjadi
§ Lingkaran
retraksi patologis timbul, nyeri di
bawah lingkaran bandl ring merupakan tanda akan terjadi rupture uterus.
Tujuan
nya adalah untuk mengetahui segera dan penanganan yang tepat keadaan
daruratpada partus lama/macet. Hasil yang diharapkan yaitu mengenali secara dini
tanda gejala partus lama/macet serta tindakan yang tepat. Penggunaan patograf
secara tepat dan seksama untuk semua ibu dalam proses persalinan. Penurunan
kematian/kesakitan ibu dan bayi akibat partus lama/macet.
d. STANDAR 19 : Persalinan Dengan Menggunakan
Vakum Ekstraktor
Bidan
hendaknya mengenali kapan waktu diperlukan menggunakan ekstraksi vakum,
melakukan secara benar dalam memberikan pertolongan persalinan dengan
memastikan keamanan bagi ibu dan janinnya.
Bidan harus
:
a) Pastikan
bahwa memang perlu dilakukan forsep letak rendah Syarat : paling sedikit 4/5 kepala bayi sudah masuk
dalam panggul
§ Pembukaan
serviks sudah lengkap
§ Ketuban
harus sudah pecah dan sutura sagitalis harus dalam posisi anterior-posterior
§ Forsep
rendah bermanfaat :
§ Bila ada
gejala dan tanda gawat janin pada pembukaan serviks lengkap
§ Bila ada
gawat ibu dan pertolongan medis tidak ada
§ Bila kala II
lama dan kepala bayi sudah di bawah
spina isciadika
§ Bila ada
alasan medis untuk memperpendek kala II
b) Siapkan
peralatan forsep yang telah disterilkan
c) Mintalah ibu
untuk buang air kecil jika kandung kemihnya penuh
d) Bringkan ibu
pada posisi litotomi, bersihkan daerah genitalia dengan air bersih
e) Cuci tangan
dengan sabun air bersih dan keringkan dengan handuk bersih
f) Perisa semua
peralatan apakah berfungsi, terutama kedua bagian forsep terdapat terkunci
dengan baik.
g) Dengan tehnik antiseptik, lakukan periksa
dalam untuk kemudian masukkan forsep kiri mengikuti tangan kiri yang melindungi
dinding vagina, sampai forsep berada di samping kapala bayi
h) Masukkan forsep kanan mengikuti tangan kanan
yang melindungi dinding vagina
i)
Kunci kedua
bagian forsep tanpa paksaan
j)
Lakukan
episiotomi jika perlu
k) Jika forsep sudah terkunci tunggu his
berikutnya lalu selama his berlangsung
lakukan traksi kearah bawah sampai kepala tampak keluar
l)
Lepaskan forsep bila kepala sudah lahir
m) Selama
melakukan tindakan bidan hendaknya menerangkan kepada ibu apa yang dilakukan
dengan cara yang baik dan bersahabat
n) Lanjutkan
melahirkan bayi seperti biasa ketika kepala sudah lahir dan forsep sudah
dilepas
o) Segera
setelah bayi lahir periksa dinding vagina dengan teliti apakah ada tanda/gejala
perlukaan/robekan
p) Bila ada
robekan jahit dengan alat-alat steril
q) Periksa bayi
dengan teliti apakah ada perlukaan atau trauma akibat forsep
r) Periksa ibu
apakah sudah bisa buang air kecil secara normal setelah persalinan dan periksa
apakah tidak terjadi kerusakan uretra/leher kandung kemih.
s) Jika ada
retensi urine/tanda dan gejala terjadinya fistula maka masukkan kateter lunak
dan kirim segera ibu kerumah sakit
t) Amati adanya
hematoma yang timbul setelah persalinan
u) Buat catatan lengkap
Tujuan
penggunaan vakum yaitu untuk mempercepat persalinan dalam keadaan tertentu.
Hasil yang diharapkan yaitu penurunan kesakitan atau kematian akibat persalinan
lama. Ibu mendapatkan penanganan darurat obstetric yang cepat .
e. STANDAR 20 : Penanganan Kegawat
daruratan Retensio Plasenta
Bidan
mampu mengenali retensio plasenta dan memberikan pertolongan pertama, termasuk
plasenta manual dan penanganan perdarahan, sesuai dengan kebutuhan. Tujuan nya
adalah mengenali dan melakukan tindakan yang tepat ketika terjadi retensio
plasenta .
Bidan mampu :
a) Pastikan
bahwa ekstraksi vakum memang perlu dilakukan
b) Siapkan
semua peralatan dan hubungan satu dangan yang lain
c) Cuci tangan dengan sabun, air bersih dan
keringkan dengan handuk bersih
d) Baringkan
ibu pada posisi litotomi
e) Mintalah ibu
untuk BAK jika kandung kencingnya penuh
f) Dengan
tehnik aseptik lakukan periksa dalam dengan hati-hati untuk mengukur pembukaan
serviks dan menilai apakah ketuban sudah pecah
g) Jika
pembukaan serviks lebih dari7 cm letakkan mangkuk yang tepat ukurannya pada
puncak kepala bayi
h) Mulailah
menghisap sesuai dengan petunjuk penggunaan alat
i)
Periksa kembali apakah dinding vagina dan serviks
bebas dari amngkuk penghisap
j)
Pada his berikut naikkan hisapan lebih lanjut jangan
pernah melebihi tekanan maksimum 600 mmHg
k) Lakukan
tarikan pelan tapi mantap
l)
Mintalah ibu meneran jika ada his seprti pada
persalinan normal
m) Bila his
berhenti bidan harus menghentikan tarikan
n) Jelaskan
dengan hati-hati dan ramah kepada ibu apa yang sedang dilakukan
o) Bila kepala
sudah turun diperineum lakuka tarikan kearah horizontal lalu keatas pada sudut
90o dari mangkik penghisap
p) Lakukan
episiotomi bila dasar panggul sudah sangat teregang
q) Bila kepala
sudah lahir pelan-pelan turunkan tekanan vakum lalu lanjutkan pertolongan
persalinan biasa
r) Setelah bayi
lahir periksa dengan teliti dinding vagina terhadap robekan atau perlukaan
s) Jika perlu
jahit robekan dengan menggunakan peralatan dan sarung tangan steril
t) Periksa bayi
dengan teliti terhadap luka/trauma akibat mangkuk penghisap
u) Pastikan
apakah ibu dapat BAK dengan normal
sesudah melahirkan dan apakah tidak ada kerusakan pada uretra
v) Jika terjadi
retensi urine pasang kateter lunak dan rujuk ibu
w) Amati
kemungkinan terjadi hematoma sesudah persalinan
x) Buat
pencatatan yang akurat
Hasil
yang diharapkan ialah penurunan kejadian retensio plasenta. Ibu dengan retesio
plasenta mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Penyelamatan ibu dengan
retensio plasenta meningkat.
f. STANDAR 21 : Penanganan Perdarahan
Post Partum Primer
Bidan
mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam pertama setelah
persalinan dan segera melakukan pertolongan pertama kegawat daruratan untuk
mengendalikan perdarahan. Tujuan nya adalah bidan mampu mengambil tindakan
pertolongan kegawat daruratan yang tepat pada ibu yang mengambil perdarahan
post partum primer/ atoni uteri.
Bidan harus
:
a) Amati adanya
tanda dan gejala retensio plasenta
b) Bila
plasenta tidak lahir dan kontraksi uterus kurang baik berikan oksitosin 10 IU
secara IM
c) Jika dengan
tindakan tersebut plasenta belum lahir rujuk ibu
d) Bila terjadi
perdarahan dan kontraksi uterus sudah baik maka lahirkan segera plasenta secara
manual, bila tidak berhasil lakukan rujukan segera dengan infus terpasang
e) Berikan
cairan NaCl atau RL secara guyur untuk menggan ti cairan yang hilang dan
pertahankan nadi dan tekanan darah
f) Siapkan
peralatan untuk melakukan tehnik manual yang harus dilakukan aseptik
g) Baringkan
ibu terlentang dengan lutut ditekuk dan kedua kaki di tempat tidur
h) Jelaskan
kepada ibu apa yang harus dilakukan dan jika ada berikan diasepam 10 mg
i)
Cuci tangan dengan sabun, air bersih dan handuk bersih
j)
Masukkan tangan kanan dengan hati-hati
k) Ketika
tangan kanan sudah mencapai plasenta, letakkan tangan kiri diatas fundus agar
uterus tidak naik
l)
Bila plasenta sudah terlepas dengan lengkap keluarkan
plasenta dengan hati-hati dan perlahan
m) Bila plasenta sudah lahir segera lakukan
masase uterus
n) Periksa kelengkapan plasenta
o) Periksa robekan terhadap vagina
p) Bersihkan ibu agar ibu merasa nyaman
q) Jika ragu
kelengkapan plasenta atau jika perdarahan tidak terkendali rujuk ibu
r) Buat
pencatatan yang akurat
Hasil
yang diharapkan yaitu penurunan kematian dan kesakitan ibu akibat perdarahan
post partum primer. Meningkatkan pemanfaatan pelayanan bidan. Merujuk secara
dini pada ibu yang mengalami perdarahan post partum primer.
g. STANDAR 22 : Penanganan Perdarahan
Post Partum Sekunder
Bidan
mampu mengenali secara tepat dan dini gejala perdarahan post partum sekunder ,
dan melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan jiwa ibu , dan/atau
merujuk. Tujuan nya adalah mengenali
gejala dan tanda perdarahan post partum sekunder serta melakukan penanganan
yang tepat untuk menyelamatkan jiwa ibu.
Bidan harus
:
a) Periksa
gejala dan tanda perdarahan post partum primer
b) Bila
plasenta sudah lahir tetapi perdarahan masih berlangsung palpasi fundus
c) Jika uterus
berkontraksi baik perdarahan mungkin berasal dari plasenta atau selaput ketuban
yang tidak lahir secara lengkap
d) Monitor
nadi, respirasi dan tensi secara teratur, pasang infus sesuai ketentuan
e) Jika uterus
tetap tidak berkontraksi setelah panatalaksaan diatas, lakukan rujukan segera
f) Jika
terdapat gejala dan tanda-tanda syok, berikan infus cairan sesuai dengan
ketentuan
g) Bila perdarahan tetap berlangsung dan
kontraksi uterus tetap tidak ada, maka kemungkinan terjadi rupture uteri
Kompresi bimanual uterus (dari luar)
§ Letakkan
tangan kiri diatas fundus dan tekan kebawak sejauh mingkin di balakang uterus
§ Tangan kanan
dikepalkan dan di tekan ke bawah diantara simfisis dan pusat
§ Lakukan cara
diatas kemudian tekan uterus dengan kedua tangan secara bersama-sama
Kompresi bimanual uterus (dari dalam)
§ Cuci tangan
dengan sabun dan air bersih
§ Letakkan
tanan kiri seperti diatas (menekan fundus uteri dari luar)
§ Masukkan
tangan kanan dengan hati-hati kedalam vagina dan buat kepalan tinju
§ Kedua tangan
didekatkan dan secara bersama-sama menekan uterus
§ Lakukan
tindakan ini sampai diperoleh pertolongan lebih lanjut, bila diperlukan
§ Bila kompresi
bimanual pada uterus tidak berhasil, cobalah kompresi aorta
§ Perkirakan
jumlah perdarahan yang keluar dan cek dengan teratur denyut nadi, respirasi dan
tekanan darah
§ Buat catatan
yang akurat
§ Jika syok
tidak dapat diperbaiki, maka segera rujuk
§ Jika perdarahan
berhasil dikendalikan, ibu harus diobservasi ketat untuk gejala dan tanda
inveksi
Kompresi manual pada aorta
Kompresi
manual pada aorta hanya dilakukan pada perdarahan hebat dan kompresi luar serta
dalam tidak efektif
§ Kompresi
aorta hanya boleh dilakukan pada keadaan darurat sementara penyebab perdarahan
sedang di cari
§ Kedua tangan
digunakan : tangan yang satu diletakkan di lipat paha untuk meraba palpasi
ateri temoralis, sementara tangan yang satu membentuk tinju diletakkan diatas
umbilikus dan menekan pelan-pelan kebawah, kearah anterior dari kulumna
vebrikalis
§ Bila palpasi
arteri vemoralis menghilang, maka kompresi pada aorta cukup dan perdarahan akan
berhenti
Hasil
yang diharapkan yaitu kematian dan kesakitan akibat perdarahan post partum sekunder
menurun. Ibu yang mempunyai resiko mengalami perdarahan post partum sekunder
ditemuka secara dini dan segera di beri penanganan yang tepat.
h. STANDAR 23 : Penanganan Sepsis
Puerperalis
Bidan
mampu menangani secara tepat tanda dan gejala sepsis puerperalis , melakukan
perawatan dengan segera merujuknya. Tujuannya adalah mengenali tanda dan gejala
sepsis puerperalis dan mengambil tindakan yang tepat.Hasil yang diharapkan
yaitu ibu dengan sepsis puerperalis mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat
. penurunan angka kesakitan dan kematian akibat sepsis puerperalis.
Meningkatnya pemanfaatan bidan dalam pelayanan nifas.
Bidan harus
:
a) Periksa
gejala dan tenda perdarahan post partum sekunder.
b) Pantau
dengan hati-hati ibu yang beresiko mengalami perdarahan post partum sekunder
paling sedikit selama 10 hari pertama terhadap tanda-tanda awalnya.
c) Berikan
antibiotik
d) Bila kondisi
ibu memburuk pasang infus dan segera rujuk
e) Jelaskan
dengan hati-hati kepada ibu dan keluarganya tentang apa yang terjadi
f) Rujuk ibu bersama
bayinya (jika mungkin) dan anggota keluarganya yang dapat menjadi donor darah,
jika diperlukan kerumah sakit
g) Observasi
dan catat tanda-tanda vital secara teratur, cepat dengan teliti riwayat
perdarahan
h) Berikan
suplemen zat besi selama 90 hari kepada ibu yang mengalami perdarahan post
partum sekunder ini.
i)
Buat catatan yang akurat.
i.
STANDAR 24 : Penanganan Asfiksia Neonaturum
Bidan
mengenali secara tapat bayi baru lahir dengan asfiksia, serta melakukan
tindakan secepatnya, memulai resusitasi, mengusahakan bantuan medis, merujuk bayi baru lahir dengan tepat dan
memberiakan perawatan lanjutan yang tepat.
Bidan harus
:
a) Mengamati
tanda atau gejala sepsis puerperalis
b) Saat
memberikan pelayanan nifas periksa tanda awal atau gejala infeksi
c) Beri
penyuluhan kepada ibu, suami atau keluarganya agar waspada terhadap tanda atau
gejala infeksi dan agar segera mencari pertolongan jika menemukannya
d) Jika
diduga sepsis, periksa ibu dari kepala sampai kaki untuk mencari sumber infeksi
e) Jika uterus
nyeri, pengecilan uterus lambat atau terdapat perdarahan pervaginam, rujuklah
segera ibu ke RS dengan infus terpasang
f) Jaka
kondisinya gawat dan terdapat tanda/gejala septik syok (suhu 38°c atau lebih,
bau busuk dan nyeri perut) dan terjadi dehidrasi, beri cairan IV dan antibiotika
sesuai dengan ketentuan rujuk ke RS
g) Jika hanya
sepsis ringan, ibu tidak terlalu lemah, berikan antibiotika , bila tidak ada
perbaikan dalam 2x24 jam segera rujuk
h) Pastikan
bahwa ibu/bayi dirawat terpisah/jauh dari anggota keluarga lainnya, sampai
infeksi teratasi
i)
Cuci tangan dengan seksama sebelum dan sesudah
memeriksa ibu/bayi
j)
Alat-alat yang dipakai ibu jangan dipakai untuk
keperluan lain,terutama untuk ibu nifas/bayi lain
k) Beri nasehat kepada ibu tentang pentingnya
kebersihan diri
l)
Tekankan pada anggota keluarga tentang pentingnya
istirahat, gizi baik dan banyak minum bagi ibu
m) Memotivasi
ibu untuk tetap memberikan ASI
n) Lakukan
semua pencatatan dengan seksama
o) Amati ibu
dengan seksama dan jika kondisinya tidak membaik dalam 24 jam, segera rujuk ke
RS.
Tujuan
yang diharapkan yaitu mengenal dengan tepat bayi baru lahir dengan
asfiksia,mengambil tindakan yang tepat dan melakukan pertolongan
kegawatdaruratan.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kesimpulan dari makalah ini yaitu: Secara luas, pengertian standar layanan
kesehatan adalah suatu pernyataan tentang mutu yang diharapkan, yaitu akan
menyangkut masukan, proses dan keluaran (outcome) sistem layanan
kesehatan. Standar layanan kesehatan merupakan suatu alat organisasi untuk
menjabarkan mutu layanan kesehatan ke dalam terminologi operasional sehingga
semua orang yang terlibat dalam layanan kesehatan akan terikat dalam suatu
sistem, baik pasien, penyedia layanan kesehatan, penunjang layanan kesehatan,
ataupun manajemen organisasi layanan kesehatan, dan akan bertanggung gugat
dalam menjalankan tugas dan perannya masing-masing.
B. SARAN
Agar dapat memberikan pelayanan kebidanan kepada pasien,
kita sebagai mahasiswa/calon bidan hendaknya mengetahui dan memahami
standar-standar mutu pelayanan kebidanan.
DAFTAR
PUSTAKA
Azwar, Azrul.1996, Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan, Pustaka
Sinar Harapan, Jakarta.
http://rara-cmk.blogspot.com/2011/03/24-standar-pelayanan-kebidanan.html
http://syeilaross.blogspot.com/2013/04/24-standar-layanan-kebidanan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar